Kurteyki
Kurteyki

Alasan yang membuat kami terus melangkah

Malam itu, sambil duduk di pondok gunung yang dingin, mendengarkan Larry, saya merasakan diri saya berdebat dengannya di dalam hati. Setiap kali dia berkata, “Marilah kita menentukannya sebagai sebuah tujuan, tuliskanlah, dan buatlah rencana,” saya dapat mendengar diri sendiri membantah sebagai respons, dengan mengatakan hal-hal seperti : “
Tapi kami tidak punya uang.”
“Saya tidak bisa melakukannya.”
“Saya akan memikirkannya tahun depan, atau setelah Kim dan saya punya uang.”
“Kamu tidak mengerti situasi kami.”
“Saya perlu waktu lebih banyak.”

Selama bertahun-tahun, ayah kaya saya telah memberi saya banyak pelajaran. Salah satu dari pelajaran-pelajaran itu adalah, “ Kalau kamu mendapati dirimu berdebat dengan ide bagus, sebaiknya kamu berhenti berdebat.”

Untuk menjelaskan lebih lanjut, ayah kaya berkata, “Ketika seseorang mengatakan sesuatu seperti ‘Saya tidak sanggup membelinya” atau ‘Saya tidak bisa melakukannya’ atas sesuatu yang mereka inginkan. Mereka menghadapi persoalan besar. Mengapa di dunia seseorang berkata, “Saya tidak sanggup membelinya” atau ‘Saya tidak bisa melakukannya’ atas sesuatu yang mereka inginkan? Mengapa seseorang membatasi diri sendiri dari hal-hal yang mereka inginkan? Tidak masuk akal.”

Sementara api berderak-derak di perapian, saya merasakan diri saya sedang berdebat dengan sesuatu yang saya inginkan.

“Mengapa tidak pensiun kaya dan pensiun dini?” Saya akhirnya bertanya kepada diri sendiri. “Apa salahnya dengan itu?” Pikiran saya perlahan-lahan mulai terbuka dan saya mengulangi di dalam hati untuk diri sendiri, “Mengapa saya berdebat dengan ide itu? Mengapa saya berdebat melawan diri sendiri? Itu ide bagus.

Saya sudah membicarakannya bertahun-tahun. Saya pernah ingin pensiun sebelum umur tiga puluh lima dan sekarang saya segera akan berumur tiga puluh tujuh tahun dan saya bahkan belum mendekati pensiun. Kenyataannya, saya hampir tidak punya uang. Jadi kenapa saya berdebat?”

Setelah mengatakan hal itu kepada diri sendiri, saya menyadari mengapa saya telah berdebat melawan ide bagus. Pada umur dua puluh lima, saya pernah berencana untuk menjadi kaya dan pensiun antara umur tiga puluh hingga tiga puluh lima tahun. Itulah impian saya. Tetapi setelah kehilangan bisnis dompet Velcro saya yang pertama kali, jiwa saya hancur dan saya telah kehilangan banyak kepercayaan diri.

Malam itu ketika duduk di dekat perapian, saya menyadari bahwa tidak adanya kepercayaan diri telah membuat saya melakukan perdebatan. Saya berdebat melawan impian yang saya inginkan. Saya berdebat karena saya tidak ingin merasa kecewa lagi. Saya berdebat karena saya melindungi diri sendiri dari rasa sakit yang disebabkan karena memimpikan impian besar jika impian besar itu tidak menjadi kenyataan. Saya pernah bermimpi dan gagal.

Malam itu saya menyadari bahwa saya berdebat melawan kegagalan lagi, bukan melawan
impian itu.

“Oke, mari kita menentukan tujuan besar,” saya berkata dengan tenang kepada Larry. Saya akhirnya berhenti berdebat melawan ide bagus. Argumennya masih ada tetapi saya tidak membiarkan argumen itu menghentikan saya. Mengingat, itu hanya argumen yang saya miliki dengan diri sendiri dan tidak dengan orang lain. Orang kecil di dalam diri saya berdebat melawan orang yang ingin tumbuh dan menjadi lebih besar.

“Bagus,” kata Larry. “Inilah saatnya kamu berhenti menjadi seorang yang penakut seperti itu. Saya betul-betul merasa khawatir terhadap kamu.”

Alasan saya memutuskan melakukannya adalah karena saya telah menemukan mengapa saya. Saya tahu mengapa saya akan melakukannya, meskipun saat itu saya tidak tahu bagaimana saya akan melakukannya.

Mengapa kami melakukan perubahan

Robert berkata "menurut saya yang lebih penting dari bagaimana adalah mengapa kita melakukannya"
mengapa saya melakukannya adalah karena saya ingin melawan keraguan terhadap diri sendiri, kemalasan saya, dan masa lalu saya.

mengapa saya memutuskan untuk berupaya pensiun muda dan pensiun kaya : Saya bosan tidak punya uang dan selalu bersusah payah untuk memperoleh uang. Saya pernah kaya dalam waktu singkat dengan bisnis dompet saya, tetapi setelah bisnis itu bangkrut, saya kembali menghadapi kesulitan lagi. Walaupun ayah kaya saya telah mengajari saya dengan baik, saya tetap hanya mempunyai pelajarannya. Saya masih belum menjadi kaya dan itulah saatnya bagi saya untuk menjadi kaya.

Saya kesal menjadi orang rata-rata. Di sekolah, para guru, berkata, “Robert adalah anak laki-laki yang cerdas tetapi dia tidak sungguh-sungguh.” Mereka juga berkata, “Dia cerdas tetapi tidak pernah sepandai anak-anak yang berbakat. Dia hanya di atas rata-rata.” Malam itu sambil duduk di atas gunung, saya merasa bosan dan kesal menjadi orang rata-rata. Itulah saatnya bagi saya untuk berhenti menjadi orang rata-rata.

Ketika saya berumur delapan tahun, saya tiba di rumah dan mendapati ibu saya sedang menangis di meja dapur. Dia menangis karena kami terkubur di bawah segunung tagihan. Ayah saya berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh lebih banyak uang, tetapi sebagai guru sekolah, dia tidak terlalu berhasil secara finansial. Dia hanya berkata, “Jangan khawatir, saya akan mengatasinya.” Tetapi dia tidak melakukannya.

Cara ayah saya mengatasinya adalah dengan kembali bersekolah, bekerja lebih keras, dan menantikan kenaikan gaji tahunannya. Sementara itu, tagihan-tagihan tetap menumpuk dan ibu saya merasa semakin sendirian dengan tidak adanya orang yang dapat dimintai bantuan. Ayah saya tidak suka berbicara tentang uang, dan kalau dia membicarakannya, hanya akan membuatnya marah.

Saya ingat ketika memutuskan pada umur delapan tahun untuk mencari jawaban yang dapat menolong ibu saya. Malam itu ketika duduk di atas gunung, saya menyadari bahwa saya telah menemukan jawaban yang telah saya cari sejak umur delapan tahun. Sekaranglah saatnya untuk mengambil jawaban itu dan mengubahnya menjadi realitas.

"Mengapa yang paling menyakitkan dari semuanya adalah kenyataan bahwa saya sekarang memiliki seorang perempuan muda yang cantik dalam hidup saya, Kim. Saya telah menemukan belahan jiwa saya dan dia mengalami kesulitan finansial ini karena dia mencintai saya. Malam itu di atas gunung saya menyadari bahwa saya sedang melakukan terhadap Kim apa yang ayah saya lakukan terhadap ibu saya. Saya sedang mengulangi pola keluarga saya. Saat itu, saya menemukan mengapa saya yang nyata."

Jadi, itulah yang menjadi mengapa saya. Saya menuliskannya malam itu dan menyimpannya di tempat rahasia. Bagi anda yang membaca buku kedua saya, Rich Dad’s CASHFLOW Quadrant, anda mungkin masih ingat bahwa keadaan kami memburuk setelah kami meninggalkan gunung itu. Saya mengawali buku itu dengan menuturkan kisah tentang Kim dan saya yang tinggal di sebuah mobil selama kira-kira tiga minggu setelah uang kami habis. Jadi keadaan tidak menjadi lebih baik hanya karena kami mengambil keputusan untuk pensiun kaya, tetapi itu merupakan alasan mengapa yang membuat kami terus melangkah.

Keadaan juga tidak membaik bagi Larry setelah meninggalkan gunung. Dia juga mengalami kemunduran finansial yang besar pada akhir 1980-an, tetapi mengapanya membuatnya terus melangkah.

"Bukan sekadar perubahan mental tetapi perubahan yang berasal dari dalam. Itulah saat untuk melakukan perubahan besar dan saya tahu bahwa saya dapat berubah karena saya sudah menemukan mengapa saya ingin berubah."

"Kalau seseorang tidak memiliki hasrat untuk memperoleh sesuatu, akan sulit menyelesaikan apa pun"
Bila menyangkut soal bagaimana kami melakukannya, yang akan saya katakan adalah bahwa sejak 1985 hingga 1994, Kim, Larry, dan saya berfokus pada tiga jalur ayah kaya menuju kekayaan luar biasa, yakni :
- Meningkatkan keahlian bisnis
- Meningkatkan keahlian manajemen uang
- Meningkatkan keahlian investasi

Daftar Pustaka

Kiyosaki, Robert T. Rich Dad's Retire Young Retire Rich. Gramedia. ISBN 9792201815
0 Komentar
Daya Ungkit Pikiran

Artikel Terkait

Komentar