Kurteyki
Kurteyki

Daya Ungkit Langkah Pertama

Daya Ungkit Tindakan
Ayah kaya berkata, “ Langkah pertama adalah memutuskan kamu ingin hidup di
dunia macam apa. Apakah kamu ingin hidup di dunia orang miskin, kelas
menengah, atau orang kaya?”

“Tidakkah sebagian besar orang memilih hidup di dunia orang kaya?” saya
bertanya.
“Tidak,” ujar ayah kaya. “Sebagian besar orang bercita-cita hidup di dunia
orang kaya … tetapi mereka tidak melakukan langkah pertama yakni memutuskan.
Setelah kamu memutuskan, dan kalau kamu sudah benar-benar memutuskan, tidak
akan kembali lagi. Ketika kamu memutuskan, segala sesuatu dalam duniamu akan
berubah.”

Cara untuk terus menerus melangkah

Saya sering ditanya, “Setelah anda mengambil keputusan untuk pensiun
muda, apa yang membuat Kim dan anda terus melangkah?Bagaimana caranya
menghadapi kesulitan dan tidak berbalik arah ketika menghadapi masa sulit?”

Biasanya, saya menjawab dengan kata-kata klise seperti determinasi, kemauan kuat,
dan visi. Saya menggunakan kata-kata klise yang sudah sering digunakan itu karena
saya jarang mempunyai waktu untuk banyak menjelaskan apa yang telah saya
jelaskan dalam buku ini. Karena anda telah membaca sejauh ini dan mudah-mudahan anda mengerti sebagian besar dari yang telah ditulis hingga saat ini, saya
akan berbagi dengan anda secara lebih mendalam penjelasan yang lebih jujur
tentang apa yang membuat kami terus melangkah.

Dua kisah jenis dongeng lebih serius yang disuruh ayah kaya untuk saya baca
adalah kisah terkenal oleh Lewis Carroll, Alice`s Adventures in Wonderland
(Petualangan Alice di Negeri Ajaib ) dan Through the Looking-Glass
( Menembus Cermin ).

Kedua kisah itu menceritakan perjalanan memasuki realitas
yang berbeda. Dalam Alice`s Adventures in Wonderland, Alice mengikuti Kelinci
Putih menuju liangnya dan memasuki dunia yang berbeda, dunia yang
mengingatkan saya tentang industri jasa keuangan. Dalam Through the LookingGlass, Alice kembali melakukan perjalanan ke realitas lain di balik cermin. Di balik
cermin Alice menemukan buku-buku cermin yang tidak dapat dibaca kecuali
diangkat menghadap cermin, persis seperti laporan keuangan pribadi. Walaupun
demikian, menurut ayah kaya, nilai kedua kisah itu adalah ide untuk melakukan
perjalanan dari satu realitas ke realitas lain. Ayah kaya berkata, “Masalahnya
sebagian besar orang hanya mengalami satu realitas dan cenderung berpikir bahwa
realitas mereka merupakan satu-satunya realitas.”

Menjawab Pertanyaan yang Sering Diajukan

Biasanya, ketika saya mendapat pertanyaan seperti, “Apa yang membuat
anda dan Kim terus melangkah? Bagaimana anda terus melangkah bila anda tidak
punya uang, menganggur, dan menderita serangkaian kerugian financial?”

Saya menjawab dengan ungkapan klise sederhana yang sudah teruji dan terbukti
kebenarannya. Saya menjawab dengan “Diperlukan determinasi.” Atau “Kami tahu
kami tidak akan pernah kembali.” Tetapi ungkan-ungkapan klise itu tidak
menceritakan kisah yang sebenarnya. Saya ragu-ragu memulai penjelasan yang
sebenarnya karena jawabannya berada di luar realitas sebagian besar orang,
sehingga saya hanya berbicara sangat sedikit.

Beberapa minggu yang lalu dalam sebuah seminar, saya mempunyai waktu
untuk menjelaskan secara lebih lengkap alasan Kim dan saya terus melangkah.

Ketika seminar itu hampir selesai, seorang siswa mengacungkan tangan dan
bertany, “Ketika berada dalam keadaan yang paling gelap, apa yang membuat anda
dan Kim terus melangkah? Saya ingin mendengar motivasi yang sebenarnya …
bukan penjelasan-penjelasan yang anda berikan kepada kami selama ini.”

Jawaban

Saya mempertimbangkan permintaannya sejenak dan akhirnya memutuskan untuk
mengungkapkan motivasi yang mendorong kami untuk terus melangkah, setelah
Kim dan saya mengambil keputusan untuk pensiun muda dan pensiun kaya.

Penjelasan dimulai :
“Ketika saya berumur dua puluhan akhir, ayah kaya memberikan pelajaran
yang dimulai dengan pertanyaan ini. Pelajaran dan percakapan itu
berlangsung bertahun-tahun … dan walaupun dia telah meninggal, saya terus
mengulangi pelajaran itu dan mencari jawaban lebih lanjut.”

Dunia Tanpa Resiko yang Tidak Memerlukan Uang

“Apa yang ingin kamu lakukan kalau tidak ada risiko dan tidak diperlukan uang
untuk menjadi kaya?”Tanya ayah kaya.
“Tidak ada risiko dan tidak diperlukanuang?” saya mengulangi, tidak yakin ke
mana arah pembicaraan ayah kaya dengan pertanyaan ini. “Kenapa bapak
mengajukan pertanyaan itu?” akhirnya saya bertanya. “Dunia seperti itu tidak ada.”
Ayah kaya membiarkan saya duduk dengan pertanyaan saya sejenak.
Kebungkamannya merupakan petunjuk bagi saya bahwa yang terbaik adalah
mendengarkan jawaban saya dan mengambil waktu untuk memikirkannya kembali.

Setelah dia tahu bahwa saya sudah memikirkan kembali jawaban saya akhirnya dia
berkata, “Apakah kamu yakin dunia seperti itu tidak ada?”

“Dunia yang tanpa risiko dan tidak diperlukan uang?” saya bertanya, berusaha
memastikan bahwa kami sedang membicarakan hal yang sama. Yang dapat saya
dengar hanyalah ayah kandung saya yang berkata, “Berinvestasi itu berisiko“ dan
“Diperlukan uang untuk menghasilkan uang.”

Ayah kaya menganggukkan kepala. “Ya. Apa yang ingin kamu lakukan kalau
dunia seperti itu ada?”
“Saya akan mencarinya,“ saya berkata. “Tetapi hanya kalau ada.“
“Dan kenapa tidak ada?“ tanya ayah kaya.
“Karena tidak mungkin,“ saya menjawab. “Bagaimana mungkin ada dunia
dimana tidak ada risiko moneter atau tidak diperlukan uang untuk menjadi kaya?“

“Kalau kamu sudah memutuskan bahwa tidak mungkin ada dunia seperti itu,
maka tidak mungkin ada,“ayah kaya berkata dengan lembut.

“Apakah bapak mengatakan tidak ada?“ saya bertanya.
”Tidak jadi soal apa yang saya pikir. Yang penting adalah apa yang kamu
pikir,” ujar ayah kaya. “Kalau kamu mengatakan tidak ada … maka tidak ada. Apa
yang saya pikir tidak penting.”

Tetapi dunia seperti itu tidak mungkin,” saya mengulangi. “Saya tahu itu
tidak mungkin. Pasti ada risiko.”

“Maka tidak ada,” ujar ayah kaya. “Kalau kamu pikir tidak mungkin, maka
tidak mungkin.“ Ayah kaya sekarang menjawab saya dengan energi lebih banyak
dan sedikit kekecewaan dalam nada suaranya. “Yang membuat dunia seperti itu
tidak ada adalah karena kamu masih mempunyai realitas ayahmu dan
keyakinannya. Kamu mempertahankan keyakinan itu karena itu merupakan realitas
di mana kamu dibesarkan. Saya tidak bisa mengajarkan kamu lebih banyak kecuali
kamu bersedia mengubah realitas itu. Sya bisa memberimu lebih banyak jawaban
tentang cara menjadi kaya, tetapi jawaban saya tidak ada gunanya kalau kamu tidak
bersedia melepaskan realitas keluargamu tentang uang dan kehidupan.“

“Tetapi tidak diperlukan uang dan tidak ada risiko? Ayolah,“ saya berkata.
“Yang benar saja. Tidak ada yang percaya bahwa ada dunia di mana tidak
diperlukan uang dan tidak ada risiko.“

“Saya tahu,“ujar ayah kaya. “Itu sebabnya sangat banyak orang
mempertahankan jaminan kerja dan sering menganggap berinvestasi itu berisiko
atau diperlukan uang untuk menghasilkan uang. Mereka tidak mempertanyakan
anggapan mereka. Sebaliknya mereka yakin anggapan mereka benar, tidak pernah
bertanya apakah mungkin ada realitas lain atau anggapan lain. Kamu tidak bisa
menjadi lebih kaya kalau kamu tidak lebih dahulu mempertanyakan anggapan yang
mendasari keyakinanmu. Itu sebabnya sangat sedikit orang yang menjadi kaya atau
pernah benar-benar bebas secara finansial. Tetapi kamu masih belum menjawab
pertanyaan itu.“

“Tolong ulangi pertanyaannya,“ saya menjawab, merasa sangat frustasi dan
ingin tahu apa yang dia maksud dengan tidak mempertanyakan anggapan saya.

“Pertanyaannya adalah,“Apa yang ingin kamu lakukan kalau tidak ada risiko
dan tidak diperlukan uang untuk menjadi kaya?“ ayah kaya berkata, mengulanginya
dengan lambat dan berhati-hati, berusaha sebaik mungkin untuk mengucapkan
pertanyaan itu dengan jelas, sehingga saya bisa mendengar pertanyaan itu.

“Saya tetap berpendapat itu adalah pertanyaan yang tidak masuk akal tetapi
bagaimanapun juga saya akan menjawabnya,“ saya menjawab.
”Kenapa kamu mengatakan pertanyaan itu itu tidak masuk akal?“ tanya ayah
kaya.
“Karena dunia seperti itu tidak ada,“saya kembali pada jawaban semula. “Itu
pertanyaan yang bodoh dan membuang-buang waktu. Kenapa saya harus menjawab
atau memikirkan pertanyaan seperti itu?”

“Oke, “kata ayah kaya. “Saya punya jawabannya. Saya juga mendengar
anggapan dasarmu. Menurutmu memikirkan dunia seperti itu membuang-buang
waktu sehingga kamu tidak mau bersusah payah memikirkan pertanyaan itu. Kamu
sudah menganggap dunia seperti itu tidak ada sehingga menurutmu
mempertanyakan ide itu membuang-buang waktu. Kamu tidak mau
mempertanyakan anggapanmu. Sehingga karena menurutmu dunia seperti itu tidak
ada, kamu tidak mau memikirkannya. Kamu hanya mau berpikir dengan caramu
selalu berpikir. Kamu ingin menjadi kaya tetapi hidup dalam ketakutan kehilangan
uang atau hidup dengan ide bahwa kamu tidak punya cukup uang. Bagi saya itu
merupakan realitas yang aneh, tetapi saya bisa menerima jawabanmu. Saya
mengerti anggapanmu, karena merupakan anggapan yang sangat umum.”

“Tidak, tidak, tidak,” saya berkata. “Saya akan menjawab pertanyaan bapak.
Saya hanya bertanya apakah bapak mengatakan bahwa dunia seperti itu ada?” saya
berkata, meninggikan suara saya, menjadi marah dan defensive.

Ayah kaya duduk dengan tenang, kembali tidak menjawab pertanyaan saya
dan membiarkan saya mendengarkan diri sendiri. Dia mendengarkan realitas saya.
“Apakah bapak ingin agar saya percaya bahwa dunia itu ada?” saya bertanya
dengan sengit.

“Izinkan saya mengulanginya. Tidak jadi soal apa yang saya percaya,” ujar
ayah kaya. “Yang menjadi persoalan adalah apa yang kamu percaya.”

“Oke, oke, oke,” saya berkata. “Kalau dunia seperti itu ada, sebuah dunia
tanpa risiko financial dan dunia yang tidak menuntut saya untuk menggunakan uang
sama sekali untuk menjadi kaya, maka saya akan menjadi lebih kaya melampaui
impian saya yang paling liar. Saya tidak akan takut. Saya tidak akan menjadikan
alasan bahwa saya tidak punya uang atau bahwa saya bisa gagal. Saya akan hidup
di dunia yang mempunyai kelimpahan yang tak terbatas … sebuah dunia di mana
saya bisa memiliki apapun yang saya kehendaki. Saya akan hidup di dunia yang
sama sekali berbeda … yang pasti bukan dunia di mana saya dibesarkan.”

“Jadi kalau dunia seperti itu ada, apakah nilainya sebanding dengan perjalanan
yang ditempuh?” Tanya ayah kaya.

“Tentu, “saya menjawab dengan tegas. “Siapa yang tidak ingin melakukan
perjalanan itu?”

Ayah kaya hanya mengangkat bahunya tanpa berkata-kata, kembali
membiarkan saya mendengarkan kata-kata saya sendiri.

Apakah bapak mengatakan bahwa dunia seperti itu ada?” saya bertanya lagi.
“Kamulah yang harus memutuskan. Kamu bisa memutuskan dunia macam apa
yang ada. Saya tidak dapat melakukannya untukmu,” ujar ayah kaya. “Saya
mengambil keputusan saya bertahun-tahun yang lalu tentang dunia macam apa
yang saya inginkan untuk ada.”

“Apakah bapak memperoleh dunia bapak?” saya bertanya.
Ayah kaya tidak pernah menjawab pertanyaan itu. Satu-satunya jawabannya
adalah, “Apakah kamu ingat kisah Alice dan Menembus Cermin?”

Saya menganggukkan kepala.
“Bertahun-tahun yang lalu, saya menembus cermin itu. Kalau kamu percaya
dunia seperti itu ada, maka kamu bisa memutuskan untuk melakukan perjalanan
menembus cermin. Tetapi kamu hanya akan melakukan perjalanan itu kalau kamu
percaya terhadap kemungkinan keberadaan dunia seperti itu. Kalau kamu tidak
percaya bahwa dunia seperti itu ada, maka kamu hanya akan melihat cermin dan
kamu akan tetap berada di sisi sebelah sini dari cermin, melihat dirimu yang sedang
melihat diri sendiri, saling berpandang-pandangan.“

Jawaban Saya kepada Para Peserta

Ketika saya sudah menceritakan kisah ini kepada peserta, ruangan menjadi
sunyi. Saya tidak tahu apakah jawaban saya masuk akal. Tidak peduli apakah masuk
akal atau tidak, saya telah memberikan kepada mereka kisah di balik kisah.
Mengakhiri jawaban itu saya berkata, “ Jadi begitulah awal perjalanan saya. Setelah
percakapan dengan ayah kaya itu saya menjadi sangat ingin tahu. Saya memikirkan
apa yang dikatakannya selama beberapa tahun. Semakin saya memikirkannya,
pertanyaannya menjadi semakin mungkin. Ketika saya berumur awal tiga puluhan
saya tahu bahwa saya harus memperluas realitas saya. Saya tahu masa sekolah saya
dengan ayah kaya sudah selesai. Saya tahu apakah ayah kaya tidak bisa mengajari
saya lebih banyak lagi atau memberi saya jawaban lebih banyak lagi sampai saya
memutuskan untuk mengubah realitas saya dan memulai perjalanan saya. Lebih
banyak jawaban tidak akan membantu. Saya memerlukan realitas baru yang sudah
diperluas. Saya tahu sudah saatnya meninggalkan sarang, seperti yang mereka
katakana. Saya tidak tahu apakah dunia seperti itu ada, tetapi saya
menginginkannya ada.Jadi perjalanan saya dimulai setelah saya mengambil
keputusan bahwa dunia seperti itu mungkin. Dengan keputusan itu, saya pergi
mencari dunia itu, dunia di mana tidak ada risiko dan dunia di mana tidak
diperlukan uang untuk menghasilkan uang. Saya lelah memandang cermin dan
tidak menyukai apa yang saya lihat. Itulah saatnya saya pergi mencari dunia yang
menembus cermin.”

Para peserta tetap diam. Saya dapat merasakan bahwa sebagian dari mereka
dapat menerima ide itu dan sebagian menolaknya. Seorang peserta mengacungkan
tangan dan berkata, “Jadi anda percaya dunia seperti itu ada? Apakah itu yang
sedang anda katakan kepada kami?”

Saya tidak menjawab pertanyaannya. Saya hanya melanjutkan kisah itu.

“Segera setelah mengambil keputusan bahwa dunia seperti itu mungkin, saya
menemui Kim dan menceritakan kepadanya tentang perjalanan yang sedang saya
lakukan. Karena alasan tertentu dia ingin ikut serta. Dia berkata, `Apa yang kamu
bicarakan mengalahkan realitas yang saya miliki saat ini … realitas melakukan
sebuah pekerjaan seumur hidup. Saya tidak suka realitas saya sekarang sehingga
saya bersedia mencari realitas baru.`”

Peserta yang berusaha meminta saya menjawab pertanyaannya akhirnya
menurunkan tangannya dan hanya mendengarkan. “Kim adalah perempuan pertama
yang saya temui yang bersedia mempertimbangkan pikiran gila itu. Saya ragu-ragu
memberitahukan padanya, namun dia tidak menentang ide saya. Sebaliknya dia
mendengarkan saya selama berhari-hari ketika saya menceritakan tentang dunia
yang menurut saya mungkin. Demikianlah awal perjalanan kami. Bukan soal uang
tetapi lebih mengenai pencarian dunia yang lain. Jadi dengan jujur saya berkata
kepada anda semua, bahwa lebih dari apa pun juga, pencarian terhadap dunia itulah
yang membuat Kim dan saya terus melangkah.”

“Setelah mengambil keputusan, kami memulai perjalanan kami menembus
cermin. Kami tahu bahwa setelah kami memulai perjalanan itu kami harus berani,
rendah hati, menyelidiki, terus belajar, belajar dengan cepat bila ada pelajaran baru,
dan yang terpenting, kami terus memperluas realitas kami, karena kami tahu
perjalanan itu hany merupakan perjalanan dalam hati kami dan dalam benak kami.
Kami tahu perjalanan itu kecil kaitannya dengan dunia di luar diri kami, dan
semuanya berhubungan dengan realitas di dalam diri kami. Ketika kami mengalami
masa yang benar-benar sulit, pencarian terhadap realitas lain, dunia yang lain, inilah
yang membuat kami terus melangkah. Setelah perjalanan dimulai, kami tahu bahwa
kami tidak akan pernah kembali. Pencarian untuk memperoleh dunia lain itulah
yang membuat kami terus melangkah.”

Terjadi keheningan panjang di ruang seminar. Tiba-tiba, seorang peserta
mengacungkan tangan dan bertanya,“Apakah anda menemukannya? Katakanlah
kalau anda menemukannya. Kalau dunia itu ada, saya ingin pergi ke sana. Saya
tidak mau menghabiskan lima puluh tahun hidup saya bekerja untuk uang. Saya
tidak mau menjalani hidup dengan menerima perintah dari uang, hidup dalam
ketakutan tidak mempunyai cukup uang. Katakanlah apakah jenis dunia yang lain
ada.“

Saya berhenti sejenak, melakukan kepada mereka seperti yang telah dilakukan
ayah kaya terhadap saya bertahun-tahun yang lalu, memberi waktu untuk
mendengarkan realitas mereka sendiri. “Andalah yang harus memutuskan,“saya
akhirnya memberi respons setelah keheningan yang panjang. “Bukan apa yang saya
percaya, tetapi apa yang anda percaya yang ada. Kalau anda pikir dunia seperti itu
ada bagi anda, maka anda akan menembus cermin. Kalau tidak, maka anda akan
tetap berada di sisi sebelah sini dari cermin, melihat diri anda yang sedang melihat
diri sendiri. Ketika berbicara tentang uang, anda mempunyai kekuasaan untuk
menentukan apa yang real dan anda ingin hidup dalam realitas macam apa.
“Seminar itu berakhir. Sebagian besar peserta memikirkannya sungguh-sungguh.
Setelah selesai mengemasi tas kantor saya, saya berpaling kepada mereka dan
berkata, “Terima kasih atas perhatian anda. Terima kasih anda sudah
mendengarkan. Seminar selesai.”

Saya menyadari bahwa
kesulitan pribadi saya untuk menjadi kaya terutama disebabkan karena kesulitan
pribadi saya melawan ketakutan menjadi miskin. Saya juga menyadari mengapa
ayah kaya saya selalu mengatakan, “ Ketakutanmulah yang memenjarakan dirimu
sendiri. Ketakutanmulah yang mengunci dirimu di dalam selmu sendiri, penjara
yang tidak memungkinkan kelimpahan Tuhan masuk.”

Pikiran saya melayang
kembali ke masa muda saya dan saya dapat mendengarnya berkata, “Sangat sering
kita berpikir bahwa kita sendirian dan kita harus bertahan hidup dengan kekuatan
kita sendiri. Sangat sering kita percaya bahwa supaya dapat bertahan hidup, kita
harus mengerjakan pekerjaan kita sendiri. Kita sering diajar bahwa hanya orang atau
mahluk yang paling dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang akan
terus hidup dan kalau kita tidak menyesuaikan diri kita tidak hidup. Itu adalah cara
berpikir narapidana. Banyak orang merupakan narapidana finansial dari ketakutan
mereka. Itu sebabnya mereka mempertahankan jaring pengaman, menjadi tamak
dan berjuang untuk memperoleh sedikit uang seperti anjing-anjing lapar yang
berebut tulang tanpa daging, bukan mencari kebebasan finansial.”

“Mendapatkan kebebasanmu sendiri itu mudah. Yang harus kamu lakukan
adalah pertama melihat dan memahami apa yang Tuhan ingin untuk dilakukan,
kemudian lakukan apa yang Tuhan ingin untuk dilakukan dengan bakat-bakat yang
sudah diberikan Tuhan kepadamu. Kalau kamu bersedia melakukannya dengan
setia, kelimpahan Tuhan akan dicurahkan ke dalam hidupmu. Hidup bukan soal
mencari uang.Lihatlah burung-burung, tumbuh-tumbuhan, dan semua ciptaan alam
di sekitarmu. Burung-burung tidak mencari uang. Burung-burung dan mahluk
Tuhan lainnya hanya melakukan apa yang menjadi tugas mereka. Kalau kamu
percaya kepada Tuhan dan melakukan tugasmu, kelimpahan Tuhan akan menyertai
kamu selama-lamanya.“

Ayah kaya juga berkata , “Kamu tidak perlu mengerjakan
tugas burung ... burung sudah melakukannya.“

Dia mengatakan itu karena dia
melihat sangat banyak manusia bersaing untuk mendapatkan pekerjaan bukannya
berusaha memahami apa yang harus dilakukan.

Dia berkata, “Kalau kamu mau
berusaha memahami apa yang harus dikerjakan, dan mengerjakan apa yang harus
dilakukan, kamu akan membuka hubungan dengan kelimpahan Tuhan.“

Setahun kemudian, saya duduk dengan diam di pondok saya di
puncak gunung sambil mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri, “Apa yang
harus dikerjakan?“ dan “Apa yang dapat saya lakukan?“

Bila orang bertanya kepada saya saat ini mengapa saya terus bekerja walaupun
saya tidak memerlukan uangnya, jawabannya adalah jawaban ayah kaya saya. Saya
mengatakan, “Saya terus bekerja karena ada hal-hal yang harus dikerjakan.“

Kini, yang Kim dan saya lakukan hanyalah mendayagunakan apa yang telah kami pelajari untuk melakukan lebih banyak apa yang harus dikerjakan. Ironisnya, semakin Kim dan saya menerapkan daya ungkit untuk melakukan apa yang harus dikerjakan, kami menjadi semakin bahagia dan semakin kaya.

Kabar baiknya adalah bahwa anda tidak perlu meninggalkan pekerjaan anda
untuk melakukan apa yang harus dikerjakan. Anda tidak harus pensiun untuk
melakukan apa yang harus dikerjakan. Cukup melihat ke sekeliling anda maka anda
akan memahami apa yang harus dikerjakan. Yang harus anda lakukan hanyalah
mengerjakan apa yang harus dikerjakan dengan bakat yang telah diberikankepada
anda. Kalau anda bersedia melakukannya, anda akan masuk ke dalam kelimpahan
... bukan hanya sebagian dari kita.

saya bisa mendengar ayah kaya berkata, “Banyak orang-orang kecil menghabiskan hidup
mereka untuk menyerang raksasa. Mereka mengkritik, menggosip, menyebarkan
rumor dan berbohong tentang diri mereka, berusaha sekuat tenaga untuk
merobohkan mereka. Mereka melihat apa yang salah dengan raksasa itu bukannya
melihat apa yang benar.Itu sebabnya mereka tetap kecil. Daud mungkin masih
muda, dan dia tidak mempunyai banyak, hanya umban sederhana, dan dia mungkin
secara fisik lebih kecil dari Goliat, tetapi Daud bukan orang kecil.“

Inti buku ini adalah bahwa setiap kita mempunyai orang kecil, seorang Daud, dan seorang Goliat
di dalam diri kita. Daud bisa tetap menjadi orang kecil dengan menerima konteks
orang kecil, dan berkata, “Dia lebih besar dari saya. Bagaimana saya dapat
melawan seorang raksasa dengan hanya sebuah umban?” Namun, Daud menjadi
raksasa dengan memilih menerima konteks seorang raksasa. Itulah caranya
mengalahkan Goliat dan diri sendiri menjadi raksasa. Anda dapat melakukan hal yang sama.

Sebagai penutup, daya ungkit ada di mana-mana. Daya ungkit adalah
kekuatan. Daya ungkit terdapat di dalam diri kita, di sekitar kita, dan ditemukan
oleh kita. Dengan setiap penemuan baru, penemuan seperti mobil, pesawat terbang,
telepon, televise, dan Word Wide Web, bentuk daya ungkit baru ditemukan.

Dengan setiap bentuk daya ungkit baru, para jutawan dan miliarwan baru
diciptakan karena mereka menggunakan daya ungkit itu, bukan menghancurkan
atau menyalahgunakan daya ungkit baru itu. Jadi ingatlah selalu bahwa kekuatan
daya ungkit dapat digunakan, disalahgunakan, atau ditakuti. Bagaimana anda
memilih menggunakan kekuatan daya ungkit dalam hidup anda menjadi tanggung
jawab anda dan hanya anda.

Terima kasih sudah membaca buku ini dan ingatlah untuk tetap memiliki
konteks yang terbuka. Masa depan sangat cerah dan masa depan akan membawa
kebebasan bagi semakin banyak orang.

Menembus cermin untuk menemukan dunia baru yang kamu inginkan adalah seperti kamu menyakininya, kamu harus yakin dulu kalau dunia itu ada maka kamu akan mencarinya terus menerus sepanjang hidupmu.

Daftar Pustaka

Kiyosaki, Robert T. Rich Dad's Retire Young Retire Rich. Gramedia. ISBN 9792201815
0 Komentar
Daya Ungkit Tindakan

Artikel Terkait

Komentar